Rasanya mao marah ‘n suhu tubuh pun gerah
*tarik nafas, kipas-kipas*
“Aaaarrggggghhhhh…” Rasanya mao tereak… #Bergunakah?
“Aaaarrggggghhhhh…” Rasanya mao tereak… #Bergunakah?
Belakangan ini banyak buanget yang musti saya pikirin, alhasil saya punya hobby baru dehh, ‘mikir’, walo sebenernya -kalo boleh jujur- mikir emang bukan keahlian saya. Tapi gara-gara hobby baru saya ini, smuanya jadi pengen di pikirin (ato kepikiran yaa?) EHmm… *mikir lagi*
Padahal sebelum ini, saya selalu berfikir bahwa seharusnya manusia tidak harus terlalu berfikir, karena kalo di pikir-pikir, makin banyak yang di pikirin, jatohnya sakit jadi makin sedikit yang dilakuin. Bener kan yaa? *mikir (lagi?!)* Tapi -adakalanya- kita emang tetep harus mikir, apalagi di saat orang-orang sekitar menuntut kita untuk mikir, berapapun yang mampu kita pikirin.
Sebenernya mikirin pujaan hati adalah yang paling nyenengin, tapi masalahnya cowok itu suka aneh. Jadi kalo makin di pikirin, makin di butuhin, makin di inginin, biasanya dy makin lari. Padahal lari terus kan bikin keringetan *comot anduk* dan bikin sakit kaki. Nahh, daripada patah kaki, makanya saya mikir, mending gausah terlalu mikirin yang satu itu. Lagian belakangan saya nemu teori baru, bahwa cara mendapatkan lelaki pujaan adalah dengan tidak berusaha mendapatkannya. Biarin aza hati nemuin jalannya sendiri, halahhh… cit-cit-cuit… prikitiw
*dilempar sendal* Wakkkss… Kejam!!!
Dan kalo lagi mikir, kenapa yaa jadi banyak buanget ide-ide gila yang sebelomnya sama sekali ga kepikiran? Seperti saya bilang sebelomnya, saya emang ngga ahli mikir, makanya saya ga berusaha mikir seperti yang orang-orang kebanyakan mikir. Untuk hal yang itu udah pastee saya punya keterbatasan, makanya saya mikirnya pake cara-cara yang saya bisa aza.
Dan saya ceritain yaa… Dalam menjalankan hobby yang satu ini, rasanya mata adalah supporter yang baik, karena ngga taw kenapa, bisa-bisanya sampe lewat jam dua pagi pun… nehh mata maseh gada ngantuk-ngantuknya. Agak ngawatirin sehh, secara saya harus pergi ngantor pagi-pagi, dan hampir selalu saya musti balik lagi, ngejar bus lagi, karena gedung kantor saya udah kelewatan alih-alih saya ketiduran. Dalam bus. Hiks
EHmm… Itu belom termasuk aib-aib lainnya, apakah saya tidurnya mangap ato ngga, ngiler ato ngga. Nahh, untuk yang itu saya gamao mikirin, cuma b’doa aza, mudah-mudahan gada orang yang iseng-iseng ngambil gambar saya. #Tereak dari ujung sana, “hehh… sapa elo?”# Baiklah, saya emang bukan sapa-sapa.
Ngomongin tentang mikir, mungkin yang paling berat adalah mikir tentang hidup kalee yaa… Rasanya udahh terlalu tua untuk mikir “mao jadi apa ato seperti apa saya nanti?” tapi maseh terlalu muda untuk tidak melakukan apa-apa. Akhirnya inilah yang saya lakuin, mikir gimana caranya untuk menjadikan hidup yang berat dan kejam dan ngga adil dan ngga berperikemanusiaan dan pokoknya ngga sesuai buanget dehh sama Pancasila… agar menjadi lebih ringan dan lebih manis dan lebih adil dan lebih berperikemanusiaan dan lebih agak ber-Pancasila dikit lahh. Dan ternyata teorinya bener lho, dengan hanya merubah pola pikir kita, otomatis semuanya bisa berubah. Kenapa? Karena sadar ga sadar (yaa harus sadar), suka ga suka (yaa harus suka), mao ga mao (yaa harus mao)… biasanya tubuh kita ngelakuin apa yang kita pikirin. Itu sebab makanya para orang-orang hebat kex Dr. Norman Vincent Peale, wanti-wanti buanget kalo kita tuhh harus berfikir positive. Sampe-sampe saking pinginnya semua orang bisa mikir yang positif-positif, dy nuangin teori-teorinya dalam bukunya ‘The Power of Positive Thinking’. Hebat buanget kalo saya bisa mikir dan nulis kex getoo *ngayal.com*
Wahhh… tnyata udahh panjank juga yaa ocehan ini, *tarik nafas*. Hhhhfffttt… (susahh bener nulis suara nafas sendiri), nulis hurufnya gimana yaa… *mikir* Udahh ahhh, kebanyakan mikirr kexnya saya.
( Adeika, 141010 )
Ingin menapaki setapak yang berbeda, denganmu.
Agak aneh kedengarannya kalo gamao di bilang menerjang norma.
Berharap ini metamorfosa, sayank.
Dimulai saat kita terdampar, ‘n terkapar dalam ketidak berdayaan,
Dan ku mulai menangis, kamu pun menyekanya.
Duniaku gelap, terbatas dalam banyak kungkungan, tapi kamu mencarikan kuncinya.
Bawaku menghirup udara dan temukan warnanya.
Dan ku pun sangat ingin terbang, dimana kamu lah sayapnya.
…
Sayank…
Baru kali ini ku sangat ingin 10 tahun lebih muda,
Untuk kembali dapat menyusun puzzle dan menjadikannya utuh, penuh.
Dan kembali melihat terang, sambil berbisik…
“Sayank, adakah dunia untuk kita?”
( Adeika, 030910 )
Edaannnn… ternyata saya sudah lama buangett ga nengok-nengok apalagi ngisi ruang satu ini *geleng-geleng kepala, ga percaya sendiri* Bukannya mao bikin pembelaan tapi belakangan saya memang lagi ribet stadium tinggi, sumpah!!! Ayolahhh… percaya pada saya sedikiiittt saja
By d’ way bus way… kemaren saya menemukan tulisan yang ajaib buanget di yahoo.com, berkepala, “Pria tidak cerdas hobby selingkuh?” Hmm…Sekilas baca judulnya aza, saya langsung ga percaya kalaw cowo-cowo cerdas ngga suka selingkuh, maaf yaa :) Pissss… *Angkat 2 jari tinggi-tinggi, tengah+telunjuk*
Hohoho… Knapa tulisan itu jadi ajaib -versi saya-, catet!!! ‘versi saya’ , adalah karena si penulisnya bilang, “…kaum pria secara tradisional terbentuk dengan pemikiran ‘poligami’. Namun, dalam perjalanan evolusi dan pemikiran mereka, pria yang lebih cerdas akan beradaptasi dan menghargai istri mereka. Tetapi, pria dengan kecerdasan yang tidak berevolusi sempurna memiliki keinginan berselingkuh lebih besar” Hmmm… trus apa kabarnya cowo-cowo yang punya kedudukan, kekuasaan ‘n selingkuhan? Maksudnya mau bilang kalo mereka itu bodoh alih-alih tidak cerdas bgetoo? Dapet salam tuhh dari dy yang ga boleh dsebut namanya yang punya istri tiga :p *sewot*
Lebih ajaib lagi penulis yang sepertinya bernama Petty Lubis-Anda Nurlaila itu menambahkan dua point lagi yang rasa-rasanya bisa bikin sewot orang-orang yang merasa, yaitu, “satu…orang yang terlalu relijius seringkali mudah tergoda dibandingkan orang yang tidak terlalu mendalami agama. Kedua, Ergo atau orang yang berpikiran lebih relijius lebih cenderung untuk berselingkuh”, walo pun dy mngatakan tulisannya itu berdasarkan pendapat seorang ilmuwan revolusioner di London School Dr Satoshi Kanazawa, yang saya belom sempet googling siapa dy.
Sejujurnya, saat pertama membaca tulisan tersebut, saya dalam hati brucap “Alhamdulillah…” *menghela nafas lega* tapi sayangnya sisi lain otak saya berfikir lain. Saya ga yakin tingkat kecerdasan berbanding lurus dengan tingkat kesetiaan. Hmm… paling ga sampai sejauh ini belum yakin, secara yang sering saya lihat -dari kacamata saya lho-, catett!!! ‘kacamata saya’ adalah tingkat kecerdasan berbanding lurus dengan tingkat kemakmuran, dan perselingkuhan cenderung terjadi dalam lingkungan dengan tingkat kemakmuran tinggi, walo bukan jaminan juga (Hiihhhh… gimana sehh bahasanya?!). Yaa maap, saya kan cuma cerita, jangan di bata :p
( Adeika, 030810 )
Seorang temanku sedang patah hati dan aku sibuk menemani, mendengarkan curhat dan tangisannya yang tiada henti ditemani bercangkir-cangkir kopi. Duhhh!!! Sebenernya paling ga enak minum kopi dengan suasana seperti ini, karena kopinya jadi terasa lebih pait dari biasanya. Ditambah… Aku benci air mata.
“Mnurut lo gw harus gimana siz? Knapa yaa kalo dipikir-pikir, gw selalu jatuh cinta pada orang yang salah, kondisi yang salah bahkan mungkin waktu yang salah?”
Itu kira-kira salah satu isi kalimat penutup curhat sahabatku yang berjam-jam lamanya. Pertanyaan yang sama yang pernah keluar dari mulutku beberapa waktu yang lalu, dah lama buanget. Pingin ketawa rasanya kalo ingat, secara kesannya koq bgitu frustasi aku dulu yaa:p Hmm.. rasanya gakan pernah lagi keluar pertanyaan bodoh seperti itu:p
Yakin? Yups!
Dalam kondisi normal, ngga ada seorang wanita pun yang menginginkan lelaki playboy, brengsek, menang sendiri dan doyan menyakiti. Tetapi pada kenyataannya, seorang pakar sendiri ‘nyatanya’ mengatakan bahwa perempuan memang cenderung jatuh cinta pada lelaki yang salah. Kita sering terjebak dalam pesona bajingan. Kenapa? Karena kenyataannya memang lelaki seperti itu yang paling kita hindari minati. Karena kenyataannya lelaki seperti itu memang lebih menarik. Mereka umumnya ekspresif dan penuh energi, pandai mengendalikan emosi dan selalu terlihat menyenangkan. Mempunyai pembawaan yang santai, cerdas, agak berantakan dan kadang tidak disiplin. Mereka juga cenderung mementingkan diri sendiri, agak egois dan sangat minat menang sendiri. Menyukai tantangan, cepat bosan, pecandu pengalaman baru dan selalu yakin pada diri sendiri.
Pakar solusi romansa tersebut dalam tulisannya menyebutkan bahwa James Bond adalah figur yang paling tepat menggambarkan seluruh sifat di atas karena, “… he’s clearly disagreeable, very extroverted and likes trying new things. Just as Bond seduces woman after woman, people with dark triad traits may be more successful with a quantity-style or shotgun approach to reproduction, even if they don’t stick around for parenting.“ Dan kalo di pikir-pikir memang seperti itu. Umumnya dalam pesona awal, laki-laki yang kalem dan terlihat baik-baik cenderung kurang menantang, karena mereka tidak terlihat ekspresif dan kesannya “maaf” klemar-klemer.
Lalu, bagaimana caranya agar kita terhindar dari daftar korban si “James Bond” ?
Hmmm… menurut ku yang paling utama adalah kenali dan cintai diri sendiri dulu, sebelum memutuskan untuk mencintai ataw memerima cinta orang lain. Bertanyalah pada diri sendiri, seandainya kita menjadi lelaki, apakah kita akan jatuh cinta dan rela mengorbankan apa saja pada type perempuan seperti kita? Jawablah dengan jujur, dan jika jawabannya “IYA”, bersyukurlah.
Point tulisan ini adalah disitu, karena percaya ngga percaya, menjadi istimewa tetaplah istimewa. Dalam kapasitas normal, narsis itu sehat. Dan perempuan-perempuan yang yakin dirinya istimewa tidak akan ada waktu untuk menangis apalagi patah hati. Buat apa? Percayalah, Hidup terlalu indah untuk di tangisi, sista…
( adeika, 280310 )
Ku hanya ingin menyapamu,
Setiap saat, setiap waktu,
Tanpa peduli dengan ketidak pedulianmu.
Ku hanya ingin tunas itu tumbuh,
Merambat… dan penuh.
( adeika ) - Import dari Multiply sendiri gpp dunx:) Puisi ini juga sebenernya cuma buat ngerame-ramein acaranya sizta Aliaz aza yang judulnya Ekpresi cinta satu bait, sekalian bikin dy pusink, hihi… Pizzz:)
Tiba-tiba terbangun tengah malam, yups aku maseh kehilangan. Cuma pingin diam rasanya, sambil meyakinkan diri bahwa semua ini nyata.
Hidup memang begitu. Banyak ngga adilnya. Yaeyalahh… kalo hidup ini adil, tentunya aku sudah menikah dengan Christian Sugiono ato mungkin Darius Sinatra. Tapi diantara ketidakadilan-ketidakadilan hidup, rasanya tetap harus bersikap adil sama diri sendiri.
Seperti halnya matahari, ada terbit, ada tenggelam, walo sesungguhnya dia tidak terbenam. Dia hanya berpindah, menyinari bagian yang lain, dan akan kembali menyinari kita pada saat yang tepat. Jadi kenapa harus mengeluh karena malam itu dingin?
Hidup memang harus di nikmati, karena kenyataannya kita ngga pernah taw apa yang terjadi besok, bahkan sedetik kedepan. Kenyataannya hal yang paling jauh dan sangat tidak mungkin terulang adalah sesuatu yang baru saja lewat, walo sekejap.
Bisa saja baru kemarin kita sama-sama, desak-desakan antri buku di gramedia, ketawa, bahkan rebutan pizza, tapi tiba-tiba semuanya selesai. Ngga ada yang abadi. Semua bisa berubah, lepas dari (apakah?) kita sadar ato tidak. Ngga ada yang harus disesali. Hidup terus bergulir selama nafas mengalir, jadi rasanya ga perlu selalu melihat kebelakang sementara banyak jalan membentang dihadapan.
Sedih itu manusiawi, menangis bisa dimaklumi, dengan catatan bahwa semua ada batasnya.
Buat sebagian orang mungkin hidup begitu ringan dan mudah, tapi buatku sebaliknya. Namun bukan berarti dengan segala kesulitannya menjadikanku menyerah. Seseorang menyemangatiku bahwa dalam hidup ini kita harus tahu dengan pastee apa yang kita inginkan dan kelak kedepannya ingin menjadi apa dan seperti apa. Dengan begitu baru kemudian kita bisa mencari jalan untuk mewujudkannya. Orang itu selalu berkata kepadaku, bahwa kesedihan dan airmata gakan membawa kita kemana-mana. Setiap kali ku luka, orang itu selalu menekankanku agar segera mencari obatnya. “Jangan pernah membiarkan luka kecil membusuk sehingga kamu harus diamputasi ato mati.”
( Adeika, 210210 )
Manusia itu rumit,
Bersama itu sulit.
Dan ternyata keintiman bisa berubah menjadi buah musiman.
Apakah pernikahan selamanya indah? Atowkah justru membuat gerah?
Aku setuju sama hukum yang menyatakan bahwa manusia selalu tertantang untuk mendapatkan apa yang belum didapatkan. Tapi apakah lantas dapat dijadikan alasan dalam pembenaran suatu perpisahan?
Apakah seperti yang di tuturkan dee dalam blognya bahwa “Hidup punya masa kadaluarsa, hubunganpun sama.”
Seorang temanku ketika membaca judul tulisan ini langsung berkomentar,
“Apakah cinta jika tidak dapat dimengerti perwujudannya seperti apa?
Apakah cinta jika harus ada dan nanti pergi?
Apakah cinta sehingga menjadi sebuah pertanyaan?
Apakah ada ilmu pasti yang menjabarkan tentang cinta dan merumuskan bahwa cinta itu ada? Trus Kenapa cinta itu menjadi bahan yang begitu mahal?
Apakah cinta manusia itu seperti cinta dengan mobil, yang mahal dan takut lecet?
Apakah cinta itu mobil baru yang jarang dipakai, ataw justru cinta itu mobil lama yang sudah usang dan dipenuhi tanda dimana-mana?
Kalo ada yang namanya kehilangan, pasti itu cuma barang, karena cinta ngga pernah hilang. Karena dia adalah rasa yang didapat karena keinginan memiliki dan peleburan kecocokan dan ketidak cocokan antara dua manusia.”
Temanku itu berucap tanpa jeda.
Hmm… bingung kan?
Aku juga bingung maksudnya apa, secara awalnya kan tulisan ini mao ngebahas tentang perpisahan. Waakkkks, knapa komentarnya jadi filosofis begitu? Duhh!!!
Tapi balik ke awal tulisan…
Aku mao cerita.
Membentuk keluarga dalam sebuah ikatan pernikahan itu susah.
Umumnya, saat kita pacaran semua baik-baik aza. Kalopun ada masalah yang bikin sebel sampai akhirnya berantem, tohh maseh bisa langsung kabur pulang kerumah masing-masing untuk menenangkan diri. Besok paste baikan lagi.
Jika kondisinya maseh sama, tinggal bilang “putus”, habis perkara.
Ternyata pernikahan tidak sesederhana itu. Dan pacaran bertahun-tahun dalam kondisi penuh cinta dan kecocokan juga “tetap” bukan jaminan pernikahan bisa selamanya nyaman.
Dia ingin berpisah.
Dunia berubah, yang (apakah juga?!) merubah sikap dan pola pikir seseorang?
Apakah setiap orang harus mempunyai ritme yang sama agar pasangannya tidak tertinggal kereta?
Tingkat kenyamanan menunjukkan angka positif jika dalam pengukurannya memperhitungkan cinta, kesamaan minat, pemahaman untuk memahami yang lain dan rasa damai saat bersama. Dan sekian tahun dalam tautan berumah tangga, bukan tak mungkin ada sesuatu yang berubah. Tidak peduli masalah apa yang menjadi pemicunya, tapi saat suatu hubungan berada pada satu titik dimana satu sama lain merasa tidak dapat bicara pada level yang sama lagi, dimana masing-masing merasa pendapatnya yang paling benar, dimana keinginan pribadi mengalahkan komitmen yang telah disepakati… Hmm… Apakah itu lantas yang dinamakan suatu hubungan hampir kadaluarsa?
Jika memang begitu… Apakah dia yang hilang itu bernama “cinta”?
Atawkah sebatas ketidak seragaman mimpi dalam hidup bersama?
Tetap ingin berpisah? (kenapa?) makin susah.
Karena saat berumah tangga ikatan yang terbentuk tidak sebatas ikatan kita dengan pasangan kita, tapi termasuk ikatan antara keluarga dengan keluarganya. Kebahagiaan yang terbentuk saat mengikat perkawinan, merupakan kebahagiaan banyak pihak. Doa yang diucapkan pada Tuhan saat akad, tidak hanya keluar dari pasangan yang menikah, tapi juga dari banyaknya undangan dan tamu yang hadir. Semua berharap pernikahan itu langgeng selamanya. Hal tersebut juga merupakan beban saat pasangan yang (nyatanya) sudah tak sejalan untuk berpisah. Rasanya ada suatu tanggung jawab atas kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaan diri sendiri.
Memang tidak adil rasanya jika harus meleburkan kebahagiaan kita untuk sekedar tidak melihat orang lain dan lingkungan kita kecewa. Tapi bagaimana caranya menerjang norma dengan berusaha tidak membuat orang lain menitikkan air mata?
Maseh memikirkan jawabannya.
( adeika, 110210 )
Hari yang sumpah ga indah banget buat nulis, secara gataw kenapa belakangan ini kepalaku sakiitttt bener. Udah minum paracetamol dengan getol, ditambah beberapa cangkir kopi pake sedikit kayu manis biar rasanya beda, tapi sakitnya ga juga reda.
Seperti yang temans taw lahh, aku kan emank manusia yang ga bisa lepas dari kopi. Tapi sehh, kata tulisan yang ku baca, “Kafein merupakan stimulan bagi sistem saraf pusat dan metabolisme dan digunakan baik sebagai minuman ringan maupun untuk pengobatan. Kafein digunakan untuk mengurangi kelelahan fisik, mengembalikan kewaspadaan mental ketika kelelahan atau pusing terjadi, pemikiran yang lebih cepat, fokus yang lebih baik, dan koordinasi tubuh yang lebih baik. Selain sebagai stimulant, kafein juga dapat berfungsi sebagai diuretic (memacu produksi urin) ringan”.
Tuhh kan, artinya kafein dalam kopi tuhh keren buanget, selain memang rasanya yang enak gila.
Tapi kayaknya kopi emang ga temenan sama paracetamol. Buktinya kepalaku makin mao pecah gara-gara mereka :p Bukan itu aza, sini dehh lihat… Whuaa… kepalaku gatel, mukaku gatel, tanganku gatel, badan, kaki, betis, paha, hidung, kuping… gateeelllll semua. Muncul bintik-bintik, trus bentol-bentol dan merahh pula… Pingin nangis rasanya.
Mungkin ngga sehh ku alergi obat sakit kepala?
Emank ada yaa kecenderungan aneh seperti itu?
Bingung!!!
Dalam kondisi badan yang makin ga jelas, dan gataw musti gimana lagi, secara maluu juga kalo harus keluar ruangan dengan bentuk yang ga keru-keruan seperti ini, akhirnya ku temenan lagi dehh dengan om google, curhat tentang penderitaanku.
Temans mao taw ga apa katanya?
Dia bilang, “Paracetamol hendaknya tidak diminum bersama dengan kafein, baik dalam sediaan kombinasi yang umum untuk obat migren maupun dalam bentuk minuman seperti kopi atau energy drink. Penelitian american chemical society (ACS) menunjukkan bahwa kafein meningkatkan efek toksik paracetamol. Para peneliti menyatakan bahwa kafein melipat-tigakan kadar metabolit hasil pemecahan paracetamol, N-acetyl-p-benzoquinone imine (NAPQI), yg bersifat toksik. Racun ini berperan besar dalam kerusakan dan kegagalan hati seperti yang ditemui pada interaksi alkohol-paracetamol. temuan ini menguatkan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kafein dosis tinggi dapat meningkatkan tingkat kerusakan pada tikus yang telah mengalami perusakan hati yang dipicu oleh paracetamol.” (http://forum.kompas.com/medis/6452-paracetamol-kafein-bahaya.html)
Waduhh, ku pun melongo bego.
Ini lebih parah dari penderitaanku yang Cuma bentol-bentol merah dan gatel, bukan?
( Adeika, 0209 )
Menyeruput secangkir kopi pahit tanpa gula dipagi hari sama nikmatnya seperti saat kita mendapati bahwa hal yang memang kita inginkan nyata ada dihadapan. Aroma harum yang menggelitik sudut-sudut hidung di tambah uap hangat akan menebarkan sinyal-sinyal dimana serotonim menyeruak ingin disapa.
Tiba-tiba, ga taw kenapa pagi ini aku sangat ingin bercerita. Bukan hal yang penting sehh, tapi mungkin butuh penyaluran aza. Seperti biasa… (Halahh… ;p)
Tahukah temans, sekarang ku baru sadar tentang apa yang orang Amerika bilang, bahwa kita bisa jadi apapun yang kita mao, sepanjang kita punya tekad, kerja keras, sisanya Kuasa Tuhan.
Andrea Hirata dalam tetralogi-nya sempat menulis, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memelux mimpi-mimpi kita.”
Mungkin Tuhan sempat tertawa ketika seorang pembelah kayu pagar bermimpi ingin menjadi president. Jangankan Tuhan, mungkin semua orang juga akan tereak, “Mimpi aza loe…”
Tapi Tuhan tetap Tuhan. Kuasanya tak berbatas, kasihnya tak pernah lepas.
Ketika semua orang hanya bisa tertawa dan mencela, Tuhan mengamati tanpa jeda.
Dia melihat setiap usaha dan butir-butir keringat hambanya, juga tekad dan airmatanya.
Itu yang terjadi pada mantan president Amerika ke-16 Abraham Lincoln.
Ku membaca seluruh buku Sidney Sheldon yang langsung masuk dalam list of my favorite books, karena “ternyata” hampir semua tokoh utamanya adalah wanita.
Aku ingin menjadi Tracy Whitney dalam If tomorrow comes, dan Dana Evans dalam The sky is falling, dan Catherine dalam Memories of midnight juga The other side of midnight, dan Mary Ashley dalam Windmills of the Gods, dan Alexandra dalam Master of the game, dan Paige Taylor dalam Nothing last forever, dan Elizabeth dalam Bloodline, dan Lara Cameron dalam The stars shine down dan Kelly serta Diane dalam Are you afraid oof the dark? Etc.
Pada dasarnya ku mao menjadi diriku sendiri, dengan tekad kuat seperti tokoh-tokoh Sidney Sheldon tersebut.
Ku melihat tulisan disudut majalah pagi ini, “Whatever women do, they must do twice as well as men, to be thought half as good. Luckily this is not difficult.”
Menjadi cantik dan berbakat dan smart, ato ke-3nya sekaligus bukanlah dosa.
Dunia ini ga cuma milik laki-laki, sah-sah aza kalo mao bersaing.
Percayakah temans, sejak pertama ku lulus kuliah dan mulai bekerja, dari perusahaan kecil sampai perusahaan multinational yang sempat ku singgahi, “ternyata” atasanku langsung -selalu- perempuan. Semuanya, pukul rata punya kesamaan yang sama ; cantik, berbakat dan smart. Ntah ini kutukan ato memang bukti nyata bahwa perempuan itu hebat. Yang jelas kalo RA Kartini masih hidup, dia pasti bangga karena cita-citanya terwujud, bahkan mungkin lebih dasyat dari yang ada di pemikirannya.
Ntah mengapa kopi pagi ini lebih enak dari biasanya.
Mungkin karena Tejo, OB dikantorku yang baru ini sudah makin mngerti terhadap selera kopiku yang -wajib- tanpa gula.
Ato mungkin juga karena tadi sebelum melangkahkan kaki ke lantai 15 gedung kantorku, ku sempat melirik kesekeping daun yang di bawahnya tergantung damai bulatan kepompong. Yup, kepompong, sebuah proses metamorfosa dari ulat sampai nantinya akan berubah menjadi kupu-kupu nan cantik.
Lagi! dan lagi, di sebuah buku tentang contemplation… change… aku pernah menemukan sebuah kalimat yang bagus buanget, “Berubah ataw berkembang menjadi lebih baik adalah dua hal yang berbeda. Lebih memahami diri sendiri, sering kontemplasi dan lebih menghargai sesama adalah perkembangan. Perubahan adalah sesuatu yang sebenarnya harus kita lakukan sejak kemarin, dan bakal berlangsung terus sampai akhir kehidupan. Mereka yang sukses adalah mereka yang tidak takut berubah untuk menjadi lebih baik lagi.”
Hmmm… tanpa mao berdebat, aku langsung setuju pada kalimat tersebut.
It’s time to put resolution into action.
( adeika : Tayang juga di sini )